Minggu, 29 Juni 2014

Pilihan Kisah

Aku memilih kisah ini, Kak.
Engkau benar Kak, bahwa kita tidak boleh menyesali kehidupan yang telah kita pilih sendiri seperti yang tadi siang aku baca dalam barisan katamu.
Mungkin memang harus begitu. Mencoba untuk tidak menyesali kehidupan yang telah kita punya. Karena kita telah menjalani kehidupan ini dengan sangat baik dan telah melakukan yang terbaik semampu energi yang kita punya.
Aku pun ingin seperti itu, menjalani pilihan-pilihan kehidupan tanpa penyesalan. Tetapi kenyataannya, rasa bersalah ini atas apa yang menjadi kenyataan seringkali mengusik kehidupan. Menghempaskan aku dalam ruang sempit bernama menyesal. Menyalahkan diri sendiri yang tiada berdaya untuk sekedar mernafas lega.
Diri ini harus punya keberanian itu. Keberanian untuk menjalani hidupku sendiri bukan keberanian untuk menyerah karena telah lelah. Masih banyak yang harus kita lakukakn bukan untuk sekedar mengalah pada keadaan.
Kak, aku kehilangan bagian kata dalam kehidupanku. Sejak aku tiada sesering dulu berjumpa denganmu. Kadang aku bertanya, "Dimana kakak yang selalu melengkapi kata tak sempurna dariku?" Aku mencari namun tak ada.

Taman Kampus, 29 Oktober 2013
Ary Pelangi

Rabu, 25 Juni 2014

Percakapan Sang Guru

Tiga hari dua malam. Dibilang lama juga tidak terlalu lama. Mau dibilang singkat nyatanya juga tidak sesingkat itu. Merasakan terik matahari, panasnya udara siang juga deru teriakan yang akan dirindukan suatu hari nanti. Langit-langit malam itu berhiaskan bintang yang kadang tersapu mendung. Lantas akan kembali merasakan dingin, embun malam yang membasahi tenda. Tetapi aku tidak terlelap di dalam tenta. Lebih nyaman beralaskan tikar dan memandang langit berhias cahaya bintang.
Langkah-langkah kaki kecil itu yang membuatku tersenyum. Adik, aku percaya engkau telah beranjak dewasa dan mampu menjaga adik-adikmu. Percayalah mereka bukanadik yang manja. Mereka hanya masih terlalu kecil untuk mengerti arti dewasa.
Lamunanku kembali memutar rekaman-rekamamn malam yang menyisakan cerita. Berjumpa dengan para pendahulu. Terlalu banyak percakapan sampai aku tidak mampu mengingat semuanya. Potongan-potongan cerita itu terjebak spasi oleh waktu yang tidak mungkin aku langgar lagi. Jam dua belas malam itu waktu cinderella pulang ke rumahnya dan aku masuk ke tenda sebentar sebelum akhirnya hanya merebahkan badan di luar tenda dan memandang langit malam.
Terlalu banyak cerita. Satu kebiasaan yang tak pernah aku lupa untuk tanyakan saat bertemu dengan para pendahulu. “Ceritain donk zaman dulu seperti apa?”
Kisah-kisah masa lalu yang hanya sedikit aku mengenal siapa-siapa saja tokohnya. Masa kejayaan mereka dengan segala keunikannya. Masa lalu yang tidak aku kenal sebab bukan disana langkahku dahulu.

Selasa, 10 Juni 2014

Bintang Lawu

Senyuman malam itu kini kembali hadir dalam terik matahari. Bintang-bintang lawu kembali bersinar di antara kerik matahari. Sulit rasanya untuk percaya tetapi begitulah kata berkisah.
Aku tidak mampu lagi berlama-lama berada disana, memandangnya meski hanya sekilas saja. Tidak mungkin lagi bercanda atau bicara teramat serius dengannya. Mungkin karena dirinya terlalu ramah. Mungkinkah dia teramat istimewa?