Senin, 06 Maret 2017

Angka Itu “26”

Begitu saja segalanya meleleh malam itu. Air bening begitu hebatnya menembus kokohnya kelopak mata. Bahkan dia tidak tahu malam itu untuk siapa air mata itu tumpah. Air mata yang deras mengalir untuk nama yang belum dia tahu. Untuk wajah yang belum pernah dia temui.
Malam yang mulai larut mengantarkan canda pada percakapan indah. Dia tidak menanggapinya karena baginya lelaki itu hanya seorang kawan yang keterlaluan bercanda. “Mau ga? Temenku ada yang siap nikah nih.” Lelaki itu menulis sebuah komentar di akun sosmednya.
            Resah. Malam itu hanya dengan membaca komentar sederhana itu dia mengakhiri canda dalam tulisan di akun. Seorang lelaki seperti itu, teman yang mampu memposisikan diri dalam bercanda. Dia kira lelaki itu sangat keterlaluan. Sudah bukan sepantasnya lagi bercanda tenang pernikahan.
            Angka dua puluh enam mengajarkannya tentang kedewasaan yang membuat lebih memahami betapa indah dan rumitnya perjalanan cinta. Rasa yang telah mengombang ambingkan ribuan manusia. Mengajaknya bercakap tentang cinta? Tidak perlu. Bahkan kalian lebih memahami dari siapapun. Kalian tahu bagaimana menggandaikan rasa cinta, rindu juga kesetiaan dalam jarak dan keterbatasan komunikasi kampung terpencil di negeri ini. Kalian juga tahu bagaimana rasanya bila rasa teruji dalam jarak juga kesibukan kota. Cinta dalam rasa beraneka yang mampu menghancurkan lembar-lembar tugas dan menyita malam yang harusnya terlelap.
            Tidak perlu mengujinya tentang rasa. Dia, aku juga ribuan perantau yang lain belajar arti sebuah kesetian, memahami apa itu komitmen dan tahu bagaimana kembali bangun setelah penghianatan orang yang pernah dicinta. Jangan lagi meyakinkan dia, aku atau perantau  lain dengan kata cinta yang memang tidak manis rasanya.

Senin, 16 Januari 2017

Diam “Untuk Jalanan”

“Mbak kangen jalanan ga?”
Agh, adik. Bahkan aku jarang sekali menampakkan diriku dijalanan seperti dirimu. Hanya sesekali saja, dan tidak sering. Bahkan aku tidak ingin bila sampai tertangkap kamera. Kau tahu kenapa? Suatu hari hari nanti kau juga akan tahu, seperti mereka yang dengan mudahnya memahami pertanyaanmu.

Dan seiring hari berlalu bahkan aku tidak disisi kalian meyiapkan perbekalanan untuk berada dijalanan. Apa kau kira aku sudah berubah? Kau kira aku tidak lagi peduli?
Bahkan sekalipun aku jelaskan semua itu mungkin tidak akan berarti. Bukahkah aku tidak harus menjelaskan tentang siapa diriku. Bahkan dengan bebas kau bisa menilai bagaimana diriku dengan caramu sendiri atau dengan cara orang-orang yang ada disekitarmu.

Letter

Teruntuk engkau yang masih aku sebut dalam doa.
Semoga setiap jejak perjalananmu masih menyenangkan.


Semoga kekuatan dan kesehatan tetap menjadi nikmat yang mengisi hari-harimu. Aku tahu engkau sakit saat pertama aku mengucap doa itu. Sebuah doa yang sengaja aku tumpahkan dalam senja. Aku tahu beberapa hari engkau terbaring di kontrakan milik temanku, kota Solo. Cukup aku tahu semua itu menjadi penegur akan doa-doaku.
Sedikit pun tidak pernah ada niatan untuk memutus tali diantara kita. Bahkan kita masih tetap saling bertegur sapa, bercerita dan sedikit mengisi percakapan dengan pertengkaran kecil. Semua seakan biasa. Namun perantauanku juga doa yang aku ucap tidak lagi sama, meski masih namamu terucap namun harapku sudah tidak sama lagi. Banyak cerita berubah begitu saja, bukan karena keinginan sesaat. Hanya saja aku sudah tidak tahu lagi harus menjalaninya seperti apa. Senja itu aku memangkas banyak harapan dalam doaku. Senja itu pula aku memiliki banyak harapan untuk kehidupan yang aku sendiri tidak tahu.
Doa itu masih untukmu, masih namamu yang terucap namun harapan tidak lagi sama. Bukan karena ada nama yang lain dalam doaku. Meski itu bagian yang harus aku sebut dalam doaku, nama yang aku semogakan dalam rentetan doaku. Tenanglah, namamu masih aku sebut dalam doa meski harap tidak lagi sama.
Seperti hari-hari yang lalu, kau harus bangun dan menata ulang hidupmu. Aku tahu engkau hanya sedikit lelah dengan kehidupan, tidak mengapa. Semua akan kembali seperti awal adanya. Kau akan baik-baik saja begitu juga diriku.
Kali ini aku tidak akan mengucap kata maaf. Seperti engkau yang hanya sekali mengucap kata “maaf” disaat harusnya kisah ini telah selesai sekian tahun lalu. Tetapi semua menggantung hingga tahun-tahun berikutnya. Tidak satupun cerita menjadi jelas, hanya semburat makna yang nyatanya masih terbaca dalam setiap pertemuan juga percakapan. Kali ini aku tidak akan mengucap kata maaf untuk doa yang aku awali di Ramadhan untuk dirimu, masih namamu namun harap tidak lagi sama. Semoga yang terbaik untukmu.