Senin, 16 Januari 2017

Diam “Untuk Jalanan”

“Mbak kangen jalanan ga?”
Agh, adik. Bahkan aku jarang sekali menampakkan diriku dijalanan seperti dirimu. Hanya sesekali saja, dan tidak sering. Bahkan aku tidak ingin bila sampai tertangkap kamera. Kau tahu kenapa? Suatu hari hari nanti kau juga akan tahu, seperti mereka yang dengan mudahnya memahami pertanyaanmu.

Dan seiring hari berlalu bahkan aku tidak disisi kalian meyiapkan perbekalanan untuk berada dijalanan. Apa kau kira aku sudah berubah? Kau kira aku tidak lagi peduli?
Bahkan sekalipun aku jelaskan semua itu mungkin tidak akan berarti. Bukahkah aku tidak harus menjelaskan tentang siapa diriku. Bahkan dengan bebas kau bisa menilai bagaimana diriku dengan caramu sendiri atau dengan cara orang-orang yang ada disekitarmu.

Letter

Teruntuk engkau yang masih aku sebut dalam doa.
Semoga setiap jejak perjalananmu masih menyenangkan.


Semoga kekuatan dan kesehatan tetap menjadi nikmat yang mengisi hari-harimu. Aku tahu engkau sakit saat pertama aku mengucap doa itu. Sebuah doa yang sengaja aku tumpahkan dalam senja. Aku tahu beberapa hari engkau terbaring di kontrakan milik temanku, kota Solo. Cukup aku tahu semua itu menjadi penegur akan doa-doaku.
Sedikit pun tidak pernah ada niatan untuk memutus tali diantara kita. Bahkan kita masih tetap saling bertegur sapa, bercerita dan sedikit mengisi percakapan dengan pertengkaran kecil. Semua seakan biasa. Namun perantauanku juga doa yang aku ucap tidak lagi sama, meski masih namamu terucap namun harapku sudah tidak sama lagi. Banyak cerita berubah begitu saja, bukan karena keinginan sesaat. Hanya saja aku sudah tidak tahu lagi harus menjalaninya seperti apa. Senja itu aku memangkas banyak harapan dalam doaku. Senja itu pula aku memiliki banyak harapan untuk kehidupan yang aku sendiri tidak tahu.
Doa itu masih untukmu, masih namamu yang terucap namun harapan tidak lagi sama. Bukan karena ada nama yang lain dalam doaku. Meski itu bagian yang harus aku sebut dalam doaku, nama yang aku semogakan dalam rentetan doaku. Tenanglah, namamu masih aku sebut dalam doa meski harap tidak lagi sama.
Seperti hari-hari yang lalu, kau harus bangun dan menata ulang hidupmu. Aku tahu engkau hanya sedikit lelah dengan kehidupan, tidak mengapa. Semua akan kembali seperti awal adanya. Kau akan baik-baik saja begitu juga diriku.
Kali ini aku tidak akan mengucap kata maaf. Seperti engkau yang hanya sekali mengucap kata “maaf” disaat harusnya kisah ini telah selesai sekian tahun lalu. Tetapi semua menggantung hingga tahun-tahun berikutnya. Tidak satupun cerita menjadi jelas, hanya semburat makna yang nyatanya masih terbaca dalam setiap pertemuan juga percakapan. Kali ini aku tidak akan mengucap kata maaf untuk doa yang aku awali di Ramadhan untuk dirimu, masih namamu namun harap tidak lagi sama. Semoga yang terbaik untukmu.

Sabtu, 07 Januari 2017

Sebuah Kepasrahan (UTN ULANG 2 PPG SM-3T)

Ketenangan itu tiba-tiba saja menjelma menajadi sebuah ketakutan yang hebat. Ya, kira-kira empat puluh lima menit berlalu setelah pukul 08.30. Kepercayaan diriku yang sejak malam tadi cukup untuk dipertaruhkan mengantarkan kalian menuju UTN Ulang kedua. Jujur ditengah waktu yang dijadwalkan keresahan-keresahan itu menjelma, ketakutan yang tiba-tiba saja mengisi mata, pikiran juga hati. Meski begitu aku coba mengembalikan keyakinanku seperti diawal aku melangkah meninggalkan asrama, memenuhi janji menemani kalian hingga masuk ruang ujian. Kumohonkan pertolongan pada-Nya. Aku meminta kelulusan untuk kalian yang tengah berjuang melawan kata. “Semoga lulus.”
            Tidak ada yang bisa aku berikan lagi ketika aku lihat wajah-wajahmu yang lelah oleh perjuangan. Mendengar cerita-ceritamu aku hanya bisa katakan “Ikhlaskan yang telah diperjuangkan.” Tidak ada yang bisa aku berikan, maka aku biarkan kalian melelehkan air mata. Aku tidak ingin menahan air matamu yang harus menemani perjuangan hari ini. “Tinggal kita tawakal pada Allah.” Setidaknya kita telah berjuang sampai yang kita mampu. Bukankah pertolongan Allah sangat dekat? Dia lebih tahu bagaimana perjuangan kita.