Senin, 02 Mei 2016

Tanya Tanya dalam Pesan

“Orang-orang yang kini ada didekatmu tidaklah datang dengan kebetulan. Mereka adalah ketetapan terindah untuk mewarnai langkahmu dengan porsinya masing-masing. Pun bila suatu hari satu demi satu porsi itu telah habis, terimalah. Kau tidak akan memiliki mereka selamanya dengan segala alasan kenyamanan yang engkau miliki bersamanya”
            Barisan pesan yang sejenak menghentikan segala rutinitas tugas kuliah. Sekali dua kali aku membacanya. Lantas kembali pada tugas kuliah menyusun perangkat pembelajaran, begitu saja lenyap segala ide tentang perangkat-perangkat pembelajaran itu. Tidak satu kata pun aku tambahkan, tidak juga satu tanda titik aku hapus. Terhenti.
            Kembali tangan jari-jari membuka lembar pesan. Masih sama. Tidak ada kata yang berubah. Tidak ada kalimat yang terganti.
“Sudah siapkah engkau kehilangan lagi?” Sebuah tanya yang tertulis dari jauh entah dimana. “Sudah siapkah engkau melepaskan lagi?” Tanya itu masih berlanjut dengan tanya yang lain. “Sudah siapkah engkau untuk kembali berdebat?” Aku menunggu mungkin akan ada tanya yang lain. Namun nyatanya aku kertunduk mengulang sendiri semua tanya. Menjawabnya? Untuk apa? Untuk siapa?
            Untuk seseorang yang entah dimana? Untuk seseorang yang katanya telah menyiapkan masa depan namun mengecewakan? Untuk seseorang yang dengan lelahku dia merasakan sakit? Untuk seseorang yang melepaskan pemilik mimpi-mimpi kehidupan sepertiku? Atau untuk seseorang yang berhasil mengatakan kita hidup masing-masing? Siapa?

Rabu, 20 April 2016

Jalanan Ibu Kota

Semua kesempatan itu indah. Mengantarkanmu pada perjalanan yang tidak akan pernah terduga sebelumnya. Begitu juga sepetak ruang putih tempatmu kini duduk menatap barisan kata akan menjadi catatan kisah satu semester. Perjalanan "Aksi" mereangkai kata untuk pendidikan.
Semangat ya.... Dan kau harus tetap semangat menjalani hidupmu. Ibu Kota tempat yang menyenangkan. Kota rantau yang akan menemani perjalananmu satu tahun menyelesaikan studi. Menempuh jalan-jalan kehidupan. Biarlah langkah ini tetap pada jalan yang indah `sebagaimana skenario terindah yang telah ditentukan-Nya.
Berjalanlah terus pada jalan yang telah ditunjukkan-Nya padamu. Jalan yang benar dan engkau yakini kebenarannya. Jalan yang memang benar-benar jalan indah. Jalanan itu memang indah. terlalu banyak tikungan, tanjakan juga turunan. Sudahkah engkau lewati jalanan yang berlubang? Atau sudahkah kau lewati jalanan yang penuh dengan kerikil-kerikil tajam yang indah?
Masih kuatkah kaki untuk terus berjalan hingga akan kau rasakan bagaimana terjatuh ditikungan depan sana? sudah siapkah bila suatu saat nanti lelah dan kau terjatuh? Atau kau ingin mengakhiri disini dengan kaki yang sudah mulai bengkak merasakan jalanan yang berkerikil? Menghentikan langkah tanpa hasil apapun. Begitukah?

Minggu, 20 Maret 2016

Langit-langit Ibu Kota

Langit-langit Ibu Kota telah berkisah tentangmu. Kincir-kincir dinding kamar berbisik tentangmu. Jarak yang tak terdevinisi dalam kilometer. Dekat yang terasa jauh, mungkin terlalu jauh. Katanya rindu sudah bertaburan. Siapa peduli!  
Langit Ibu Kota masih biru walau kadang berselimut mendung. Kita pernah mendekap rindu dalam balutan kabut. Menyemai rindu dalam barisan bukit. Disana, rumah rantau yang dulu. Dan pernah aku memangkas habis segalanya sebelum roda-roda meninggalkan bekas longsor.
Mengapa masih menabur rindu? Sudah dekap saja dalam diammu. Seperti rindu yang sudah-sudah. Malam masih berhias bintang. Sedang bulan masih setia menemani bumi. Apalagi yang membuatmu meragu?
Biar langit-langit Ibu Kota berkisah tentangmu. Kincir-kincir kamar membisik rindu tentangmu. Mulailah merajut kisah yang kau jalani kini. Bingkai saja masa yang pernah berlalu. Rindu ini hanya untuk dirindu. Rindu yang bukan untuk dimiliki.
Bukankah waktu mempertemukan kita? Tulisan takdir dari Sang Pencipta. Syukuri saja jalan yang ada dihadapan mata. Melangkah dengan kaki-kaki yang kadang tak sempurna langkahnya. Jalan ini yang akan menguji kesungguhan. Dimana gurauan hanya akan tinggal cerita yang berlalu. Sedang ketulusan akan menemukan singgasana kesungguhannya.

Jakarta, 20 Maret 2016

Ary Pelangi