Kamis, 28 Januari 2016

Merindu Januari

Rindu ini bukanlah hutang yang harus kau lunasi. Bukan pula janji yang harus kau tepati. Rindu ini hanya tentang hujan di lereng Lawu. Kenangan lama yang hanya terjamah dalam ungkapan kata “Rindu”.
Enam tahun Cinta. Waktu yang kini hidup dalam kenangan. Bait-bait masa lalu yang tidak akan mungkin akan terungkap dalam kejujuran. Kaupun tidak ingin mengakuinya bukan? Kita sama Cinta. Melewetkan enam tahun yang seakan hanya biasa. Kini angin mendesah mengingatkan akan lembaran-lembaran masa lalu. Masihkah kau mengingkarinya? Ya, aku masih mengabaikannya meski jelas isyarat-isyarat itu terlukis untukku. Mungkinkah aku yang salah mengerti? Aku berharap satu hal Cinta, aku salah mengartikan isyaratmu.
Hujan hari kemarin mengingatkan aku akan pertemuan hari pernikahan sahabat kita. Pesta yang begitu sederhana untuk orang yang begitu istimewa. Sahabatku yang juga sahabatmu, Cinta. Tentang undangan bulan Januari tahun yang akan datang. Aku hanya merindu Januari.

Minggu, 13 Desember 2015

Kenangan

Bukan jarak yang membuat aku berhenti memikirkanmu. Sama sekali bukan. Aku sudah pergi jauh ke ujung barat Indonesia. Terbang dengan burung besi melintasi lautan. Lantas menempuh perjalanan semalam untuk menjacapi tempat jauh yang jauh dari keramaian kota. Daerah terpencil. Sudah sejauh itu aku pergi tetapi tidak cukup untuk menghapus cerita tentangmu.

Bukan gunung yang tinggi yang akan membuatku lupa akan dirimu. Aku bersembunyi dibalik Seribu Bukit. Memendamkan diriku setahun disana. Tetapi itu tidak cukup untuk melepaskan bayangan tentang dirimu.
Bukan hujan yang menghalangi kita untuk saling bertemu. Hujan justru mendekatkanku dengan semua kenangan yang pernah aku lalui bersamamu. Membuka tirai kenangan yang tertutup hingga semua masa lalu menjadi jelas.
Sejauh apapun aku pergi. Sejauh apapun kaki ini melangkah pada akhirnya aku tahu, lari bukanlah jawaban dari rasa sakit yang aku rasa.
Mungkin rasa sakit ini sudah terlalu lama. Sudah terlalu sering aku rasakan. Hingga kini mungkin sudah menjadi luka yang entah bagaimana rasanya.

Selasa, 17 November 2015

Aku Sahabat “Terbaik”mu

Tulisan yang engkau janjikan. Benar kau telah menepati janjimu untuk pertemuan kita kemarin. Sebuah kisah yang engkau tunjukkan pada semua orang bahwa akulah sahabat terbaikmu. Terima kasih.
            Aku baru saja turun dari bus. Duduk diemperan toko pinggir jalan raya sambil meneguk air puih dari botol. Belum lama dan aku mencoba mengirim pesan untuk sahabat yang setahun hidup seatap denganku di Gayo Lues. Hari itu aku memang telah berjanji berkunjung kerumahnya. Mengabarkan padanya di tempat yang telah dia janjikan akan menjemputku. Yogyakarta, aku membaca kisahmu di kota yang selalu meninggalkan kenangan saat aku menapak disana.
Jari-jari tanganku lincah menyentuh layar handphone lantas mengetikkan beberapa huruf hingga tertulis nama kerenmu. Benar saja catatan terbarumu yang pertama aku baca. Catatan yang berjudul “Dia” Sahabatku. Aku membacanya dikeramaian, masih menunggu sahabatku di depan toko. Paragraf-paragraf yang sungguh romantis. Air mataku jatuh dikeramain kata dalam kalimat kelima “...dia adalah sahabat terbaik bagiku.” Entah apa arti air mata itu, aku tidak menyadari kehadirannya dan semakin tenggelam dalam kata sederhana yang teramat istimewa. Lantas kembali aku mengulangnya “...dia adalah sahabat terbaik bagiku.” Ada yang terasa berat di kedua pundakku, ada yang menahan nafasku. Maaf, aku minta maaf untuk itu. Maaf karena engkau telah menjadikanku sahabat terbaikmu.