Minggu, 23 November 2014

Sepenggal Isyarat

Ada cinta
Setiap kerlip mataku
Aku melihat duniamu
Dunia yang teramat jauh dariku
Bagaimana aku mendekapnya?

Aku mendengarmu
Mencoba menyelami kisahmu
Tapi kau berteriak padaku

Aku bukan siapa-siapa
Hanya seorang yang tertakdir disini
Hadir dalam hidupmu
Mengisi lembaran kisahmu

Tidak apa, aku paham
Tidak perlu bicara dengan “atang”
Karna hanya sia-sia

Aku hadir disini
Bukan untuk sakit hati
Tapi untuk ketulusan langkah

Aku tidak terluka
Aku tidak sedih

Isyarat cintaku, kau akan mengerti
Cintaku hanya terbatas
Cintaku terbatas
Demi menjaga dirimu
Agar tidak sakit
Agar bahagia

Ary Pelangi
Gayo Lues

23 November 2014

Sabtu Malam - Aku Tak Sendiri


Sabtu malam, aku menyebutnya malam Minggu seperti kebanyakan orang menamakannya. Satu malam yang panjang dan mengasyikkan, itu kata mereka. Malam Minggu yang tiada beda dengan malam-malam lainnya cukup sederana dalam jeda waktu yang tiada panjang.
Duduk didepan layar televisi. Memberi komentar pada berita-berita tentang eloknya negeri ini. Sesekali menikmati sajian drama yang sering menjenhkan. Kadang menghabiskan waktu berkisah dengan saudara. Apapun dapat menjad cerita, eloknya negeri ini sekalipun. Bahkan cerita di pelosok desa mampu terdengar. Sering kali tertawa sambil menikmati apapun yang disebut camilan.
Malam terasa singkat bila aku di kota. Duduk-duduk di trotoar memandang-lampu-lampu yang lewat. Bercerita dengan kawan sekolah tentang masa lalu dan juga mimpi-mimpi yang terlanjur terwujud. Tentang masa depan keluarga baru juga kekasih hati. Menikmati wedhang Ronde yang harganya cukup minimal, cukuplah dengan kantong anak muda. Hidup ini sungguh menyenangkan.

Selasa, 14 Oktober 2014

Hari Esok

Mengapa begini?
Salah apa diri ini?
Harus terlahir tiada sempurna
Hidup dalam keterbatasan
Terhimpit belenggu keadaan

Mereka mencibir dan mencaci
Memandang sebelah mata
Menganggap aku lemah, terhina

Satu dua tetap tersenyum
Hadir menemani diri
Tetapi hanya sesaat
Meski begitu mereka abadi
Dalam kehidupan ini
Menyatu dengan raga dan doa

Hari ini aku bertanya lagi
Bagaimana masa depan kami?
Hari esok masih misteri
Tapi aku takut, khawatir
Bekal ini terlalu sederhana
Rasanya tak cukup,

Bagaimana masa depanku?
Aku begini adanya
Terlahir jauh dari sempurna
Dipandang sebelah mata
Tersisih,

Lagi, aku bertanya
Bagaimana masa depanku?
Aku ingin kaya
Aku ingin sukses
Aku ingin bahagia

Aku punya cita-cita
Meski aku tahu tak mungkin meraihnya

11 Oktober 2014
Ary Pelangi

Gayo Lues – Aceh