Selasa, 14 Oktober 2014

Hari Esok

Mengapa begini?
Salah apa diri ini?
Harus terlahir tiada sempurna
Hidup dalam keterbatasan
Terhimpit belenggu keadaan

Mereka mencibir dan mencaci
Memandang sebelah mata
Menganggap aku lemah, terhina

Satu dua tetap tersenyum
Hadir menemani diri
Tetapi hanya sesaat
Meski begitu mereka abadi
Dalam kehidupan ini
Menyatu dengan raga dan doa

Hari ini aku bertanya lagi
Bagaimana masa depan kami?
Hari esok masih misteri
Tapi aku takut, khawatir
Bekal ini terlalu sederhana
Rasanya tak cukup,

Bagaimana masa depanku?
Aku begini adanya
Terlahir jauh dari sempurna
Dipandang sebelah mata
Tersisih,

Lagi, aku bertanya
Bagaimana masa depanku?
Aku ingin kaya
Aku ingin sukses
Aku ingin bahagia

Aku punya cita-cita
Meski aku tahu tak mungkin meraihnya

11 Oktober 2014
Ary Pelangi

Gayo Lues – Aceh

Kamis, 28 Agustus 2014

Symphony Padang Rumput

“Aku akan menunggu Sa, satu tahun.” Faisal menatapku lekat-lekat. “Bahkan dua tahun sekalipun sampai kau selesaikan pendidikanmu.”
  Aku palingkan wajahku dari tatapan Faisal. Bagaimana mungkin aku percaya akan kesetiaannya? Dia lelaki yang baik tetapi aku tidak sanggup bila membiarkan dia menunggu. Satu tahun tugasku di tanah rantau lantas satu tahun berikutnya pendidikan. Siapa yang akan mampu bertahan selama itu? Faisal?
“Percayalah padaku, Sa. Aku akan menunggu.”
“Tetapi aku tidak ingin kau mennggu Sal.” Jawabku sambil meniup dandelion.
            Keheningan menyambut senja yang mulai jingga sinarnya. Biar angin tetap saja membelai kesunyian. Bagaimana mungkin aku biarkan lelaki sebaik Faisal menungguku yang akan banyak berubah? Bagaimana aku bisa percaya kalau dirinya juga tidak akan berubah?

Sabtu, 26 Juli 2014

Pertemuan dalam Ramadhan

Malam itu aku pernah meminta pada Allah tentang sebuah hati yang baru. Sebuah hati yang baru aku minta dari Rabb tempat aku akan kembali. Rabb yang pernah meniupkan ruh ke dalam ragaku. Aku meminta hati yang baru sebab aku tidak tahu lagi tentang hatiku yang telah begitu lama terasa hampa.
“Ya Allah, berikanlah aku hati yang baru. Hati yang lembut menjalankan ketaatan pada-Mu. Hati yang kuat untuk tabah melewati ujian dari-Mu. Hati yang menambah kecintaanku pada-Mu. Hati yang baru, hati yang hidup dan bersih. Saat aku terbangun esok hari, aku ingin bahagia dan teguh dalam syariat-Mu.”
Aku hela nafas dalam ketenangan tengah malam. Saat orang-orang telah terlelap dan aku masih tertunduk tidak berdaya. Mungkinkah aku telah kalah dengan diriku sendiri? Ataukah tawakal terakhir yang bisa aku lakukan?