Rabu, 02 Agustus 2017

Cerdas, Meski Tanpa Toga

“Kadang tidak semua mimpi harus jadi nyata.
Tidak semua keinginan harus terpenuhi.
Tidak semua harapan akan kita miliki.
Dan tidak semua cita-cita dapat kita raih.”


Januari lalu kedua kalinya aku wisuda. Setelah wisuda sarjana tiga tahun lalu di kampus tempat kita bertemu. Januari lalu pengembaraan membawaku menikmati wisuda di Ibu Kota. Tanah rantau yang katanya menjanjikan banyak untuk masa depan. Kota yang katanya keras. Kota yang katanya tidak yang tidak pernah terlelap.
Bukankah kau pernah punya mimpi untuk S2? Lantas sampai kapan kau akan menunda meraih gelar sarjanamu?
Kau yang membuatku ikut bermimpi. Mengimbangi kawan-kawanku untuk belajar meraih magister atau kelak saat kita bercakap aku mampu mengimbangi. Meski nyatanya saat teman-temanku sudah M.Pd aku baru selesai dengan pendidikan profesi guru. Jalan ini memang sedikit berbeda, tetapi seperti yang kini sering engkau katakan “Apalah arti selembar kertas, ijazah?” kadang juga kau bilang “Apalah arti sebuah gelar.” Kau tidak salah. Kau punya wawasan, kau punya keahlian. Kau cerdas, dan orang-orang mengakui itu.Tetapi setidaknya aku berharap kau punya legalitas atas ilmu yang kau miliki. Sesederhana itu. Sebuah legalitas. Sebuah pengakuan.
Kau bilang nanti, “Saat sudah ada yang nunggu rumah.” Begitu katamu dalam pesan hari itu. Nanti? Nanti yang sampai hari ini masih “nanti” dan akan terus “nanti”. Hingga “nanti” itu akan tetap menjadi “nanti” sampai suatu hari nanti yang entah kapan.

Hanya berDUA Saja

Aku ingin menuntaskan rindu
Benar aku ingin menuntaskannya
Saat ini, sekarang juga
Aku ingin mengadu, ingin berkata
Aku rindu
Tapi benarkah aku rindu?

Atau aku hanya marah
Aku ingin marah, meluapkannya
Namun semua tak terucap
Semua tak mampu dikata
 Hanya terhenti dikerongkongan sendiri

Dan

Long time no see.
Hari itu terakhir kau lambaikan tanganmu di sebuah bangunan berlantai dua, sebuah masjid di ibu kota. Terlalu lama kita tidak bertegur sapa. Jelas, semua itu sebab engkau tidak tampak oleh kedua mataku, bahkan bayanganmu pun tidak terlihat. Segala tentangmu tertutup hari itu dan kau hanya bilang, “Aku ada disini, bila suatu saat engkau mencari.”
Selanjutnya, hari-hari terasa begitu ringan. Aku tidak perlu bercakap denganmu. Aku tidak berbagi cerita denganmu dan engkaupun tidak mendikteku untuk setiap keputusan yang aku inginkan. Sejak hari itu aku tanpamu, saat menikmati hiruk pikuk ibu kota. Dan, itu pertama kalinya engkau melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal. Aku tidak keberatan Dan. Justru sebaliknya. Aku tidak harus terus bersamamu untuk setiap langkahku, untuk setiap jejakku dan untuk setiap lamunku. Hari itu aku paham betul bahwa aku dan kau tidak harus terus bersama.