Postingan

Ternyata Cinta

Gambar
“Aku melakukan semua pintanya namun tidak jarang aku mengumpat dalam hati.”             Masa itu terlewati begitu cepatnya. Hari yang sekarang terasa begitu jauh meski hanya dalam ingatan. Hari yang tidak pernah akan aku miliki lagi selain dalam kenangan. Semua baik-baik saja dan tidak ada yang berbeda. Seorang anak kecil yang begitu merasakan indahnya hidup di desa. Tidak ada yang lebih indah selain luasnya halaman rumah yang selalu ramai dengan sorak gembira permainan tradisional. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain lumpur-lumpur sisa hujan. Sawah dan pematangnya selalu memberi kesejukan dalam teriknya siang.             Hari itu aku mulai menyadari, aku tidak lagi sama dengan anak-anak yang lain. Meski masih sama dengan sseragam merah putih. Meski masih sama pulang sekolah bersama. Namun semua mulai terasa berbeda. Bangku kelas terakhir, disanalah semua mulai aku rasa berbeda. Aku mulai merasa berbeda.

Tali Jiwa

Masih aku percayakan padamu Hati yang pernah terluka karnamu Raga yang sempat terdera olehmu Jiwa yang pernah hampa memikirkanmu Masih aku yakini, tali jiwa ini Terikat kuat antara kau dan aku Bahwa masih saling mengerti Masih saling memahami Masih bisa saling menjaga Meski tiada bersua

Terlalu Indah

Diam... bukan berart aku tidak melakukan apapun. Bukan berarti tidak ada karya. Dalam diamku aku tetap merangkai cerita. Jemari tanganku masih setia menekan huruf demi huruf tuk melahirkan sebuah cerita. Imajiku masih memiliki begitu banyak khayalan kreasi dalam berkisah. Hari-hari yang aku nikmati semakin terasa indah. Kisah-kisah yang mendebarkan dan begitu dramatis juga turut serta hadir menjadi keajaiban hidup.

Sepenggal Isyarat

Gambar
Ada cinta Setiap kerlip mataku Aku melihat duniamu Dunia yang teramat jauh dariku Bagaimana aku mendekapnya? Aku mendengarmu Mencoba menyelami kisahmu Tapi kau berteriak padaku Aku bukan siapa-siapa Hanya seorang yang tertakdir disini Hadir dalam hidupmu Mengisi lembaran kisahmu Tidak apa, aku paham Tidak perlu bicara dengan “atang” Karna hanya sia-sia Aku hadir disini Bukan untuk sakit hati Tapi untuk ketulusan langkah Aku tidak terluka Aku tidak sedih Isyarat cintaku, kau akan mengerti Cintaku hanya terbatas Cintaku terbatas Demi menjaga dirimu Agar tidak sakit Agar bahagia Ary Pelangi Gayo Lues 23 November 2014

Sabtu Malam - Aku Tak Sendiri

Gambar
Sabtu malam, aku menyebutnya malam Minggu seperti kebanyakan orang menamakannya. Satu malam yang panjang dan mengasyikkan, itu kata mereka. Malam Minggu yang tiada beda dengan malam-malam lainnya cukup sederana dalam jeda waktu yang tiada panjang. Duduk didepan layar televisi. Memberi komentar pada berita-berita tentang eloknya negeri ini. Sesekali menikmati sajian drama yang sering menjenhkan. Kadang menghabiskan waktu berkisah dengan saudara. Apapun dapat menjad cerita, eloknya negeri ini sekalipun. Bahkan cerita di pelosok desa mampu terdengar. Sering kali tertawa sambil menikmati apapun yang disebut camilan. Malam terasa singkat bila aku di kota. Duduk-duduk di trotoar memandang-lampu-lampu yang lewat. Bercerita dengan kawan sekolah tentang masa lalu dan juga mimpi-mimpi yang terlanjur terwujud. Tentang masa depan keluarga baru juga kekasih hati. Menikmati wedhang Ronde yang harganya cukup minimal, cukuplah dengan kantong anak muda. Hidup ini sungguh menyenangkan.

Hari Esok

Mengapa begini? Salah apa diri ini? Harus terlahir tiada sempurna Hidup dalam keterbatasan Terhimpit belenggu keadaan Mereka mencibir dan mencaci Memandang sebelah mata Menganggap aku lemah, terhina Satu dua tetap tersenyum Hadir menemani diri Tetapi hanya sesaat Meski begitu mereka abadi Dalam kehidupan ini Menyatu dengan raga dan doa Hari ini aku bertanya lagi Bagaimana masa depan kami? Hari esok masih misteri Tapi aku takut, khawatir Bekal ini terlalu sederhana Rasanya tak cukup, Bagaimana masa depanku? Aku begini adanya Terlahir jauh dari sempurna Dipandang sebelah mata Tersisih, Lagi, aku bertanya Bagaimana masa depanku? Aku ingin kaya Aku ingin sukses Aku ingin bahagia Aku punya cita-cita Meski aku tahu tak mungkin meraihnya 11 Oktober 2014 Ary Pelangi Gayo Lues – Aceh

Symphony Padang Rumput

Gambar
“Aku akan menunggu Sa, satu tahun.” Faisal menatapku lekat-lekat. “Bahkan dua tahun sekalipun sampai kau selesaikan pendidikanmu.”   Aku palingkan wajahku dari tatapan Faisal. Bagaimana mungkin aku percaya akan kesetiaannya? Dia lelaki yang baik tetapi aku tidak sanggup bila membiarkan dia menunggu. Satu tahun tugasku di tanah rantau lantas satu tahun berikutnya pendidikan. Siapa yang akan mampu bertahan selama itu? Faisal? “Percayalah padaku, Sa. Aku akan menunggu.” “Tetapi aku tidak ingin kau mennggu Sal.” Jawabku sambil meniup dandelion.             Keheningan menyambut senja yang mulai jingga sinarnya. Biar angin tetap saja membelai kesunyian. Bagaimana mungkin aku biarkan lelaki sebaik Faisal menungguku yang akan banyak berubah? Bagaimana aku bisa percaya kalau dirinya juga tidak akan berubah?