Postingan

Pertemuan dalam Ramadhan

Gambar
Malam itu aku pernah meminta pada Allah tentang sebuah hati yang baru. Sebuah hati yang baru aku minta dari Rabb tempat aku akan kembali. Rabb yang pernah meniupkan ruh ke dalam ragaku. Aku meminta hati yang baru sebab aku tidak tahu lagi tentang hatiku yang telah begitu lama terasa hampa. “Ya Allah, berikanlah aku hati yang baru. Hati yang lembut menjalankan ketaatan pada-Mu. Hati yang kuat untuk tabah melewati ujian dari-Mu. Hati yang menambah kecintaanku pada-Mu. Hati yang baru, hati yang hidup dan bersih. Saat aku terbangun esok hari, aku ingin bahagia dan teguh dalam syariat-Mu.” Aku hela nafas dalam ketenangan tengah malam. Saat orang-orang telah terlelap dan aku masih tertunduk tidak berdaya. Mungkinkah aku telah kalah dengan diriku sendiri? Ataukah tawakal terakhir yang bisa aku lakukan?

Pilihan Kisah

Gambar
Aku memilih kisah ini, Kak. Engkau benar Kak, bahwa kita tidak boleh menyesali kehidupan yang telah kita pilih sendiri seperti yang tadi siang aku baca dalam barisan katamu. Mungkin memang harus begitu. Mencoba untuk tidak menyesali kehidupan yang telah kita punya. Karena kita telah menjalani kehidupan ini dengan sangat baik dan telah melakukan yang terbaik semampu energi yang kita punya. Aku pun ingin seperti itu, menjalani pilihan-pilihan kehidupan tanpa penyesalan. Tetapi kenyataannya, rasa bersalah ini atas apa yang menjadi kenyataan seringkali mengusik kehidupan. Menghempaskan aku dalam ruang sempit bernama menyesal. Menyalahkan diri sendiri yang tiada berdaya untuk sekedar mernafas lega. Diri ini harus punya keberanian itu. Keberanian untuk menjalani hidupku sendiri bukan keberanian untuk menyerah karena telah lelah. Masih banyak yang harus kita lakukakn bukan untuk sekedar mengalah pada keadaan. Kak, aku kehilangan bagian kata dalam kehidupanku. Sejak aku tiada ses

Percakapan Sang Guru

Gambar
Tiga hari dua malam. Dibilang lama juga tidak terlalu lama. Mau dibilang singkat nyatanya juga tidak sesingkat itu. Merasakan terik matahari, panasnya udara siang juga deru teriakan yang akan dirindukan suatu hari nanti. Langit-langit malam itu berhiaskan bintang yang kadang tersapu mendung. Lantas akan kembali merasakan dingin, embun malam yang membasahi tenda. Tetapi aku tidak terlelap di dalam tenta. Lebih nyaman beralaskan tikar dan memandang langit berhias cahaya bintang. Langkah-langkah kaki kecil itu yang membuatku tersenyum. Adik, aku percaya engkau telah beranjak dewasa dan mampu menjaga adik-adikmu. Percayalah mereka bukanadik yang manja. Mereka hanya masih terlalu kecil untuk mengerti arti dewasa. Lamunanku kembali memutar rekaman-rekamamn malam yang menyisakan cerita. Berjumpa dengan para pendahulu. Terlalu banyak percakapan sampai aku tidak mampu mengingat semuanya. Potongan-potongan cerita itu terjebak spasi oleh waktu yang tidak mungkin aku langgar lagi. Jam dua

Bintang Lawu

Gambar
Senyuman malam itu kini kembali hadir dalam terik matahari. Bintang-bintang lawu kembali bersinar di antara kerik matahari. Sulit rasanya untuk percaya tetapi begitulah kata berkisah. Aku tidak mampu lagi berlama-lama berada disana, memandangnya meski hanya sekilas saja. Tidak mungkin lagi bercanda atau bicara teramat serius dengannya. Mungkin karena dirinya terlalu ramah. Mungkinkah dia teramat istimewa?

Ketika Pelangi Terlalu Cinta

Gambar
Untuk engkau yang aku panggil sahabat, “Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu” Sahabatku, kau bak pelangi yang indah warnanya. Tanpa kuduga engkau hadir menghiasi langit hidupku. Aku menyayangimu, tetapi tak mampu aku katakan “aku menyayangimu”. Ditahun kelima kita berjumpa dengan kata perpisahan, menempuh jalan hidup ini masing-masing. Menikmati awal karir dengan gelar sarjana, walau sebagian dari kita masih menyusun skripsi dan menantikan wisuda. Ada juga yang masih terlalu nyaman dengan kuliah, tetapi aku tahu kau tidak akan menyesal menjalani ini semua.

Rasa Sayang

Gambar
Aku menyayangimu,  tetapi rasa sayangku terbungkus ego Aku peduli padamu,  tapi kepedulianku tersembunyi dalam diam Kau bilang aku tak layak Memang. Kau ingin aku selayak apa? Sudah cukup tidak usah bertanya lagi Rasa sayangku memang seperti ini Tak usah kau takar Tak perlu pula kau hitung Bukan juga untuk kau bandingka 13 Maret 2014 Ary Pelangi Kota Negeri Khayalan

Ombak Samudra Hindia

Gambar
“Melamun, Sa.” Begitu saja Wayang duduk disampingku.             Aku hanya mengangguk menanggapi kehadiran Wayang. Sedikitpun aku tidak meliriknya. Mataku masih tertuju pada langit yang menyatu dengan laut dihadapanku. Menatap ombak yang terus saja berlomba menepi. Menikmati kesejukan angin samudra yang telah lama tak mengusap ragaku.             Aroma laut ini masih saja sama dengan setahun yang lalu saat aku duduk di tepi samudra ini juga. Tetap saja laut masih biru. Awan masih putih bersih. Meski banyak pemandangan sekitar yang belum berubah. Hanya saja payung-payung tenda itu dulu tidak ada. Kuda-kuda juga semakin banyak. Anjing penjaga pantai masih tetap saja agresif berpatroli.             Hari ini tidak akan aku temui senja disini. Karena sebelum senja itu menyapa munngkin aku sudah akan pergi meninggalkan deburan ombak yang kini bersahabat. Aku tahu tidak akan aku nikmati senja seperti setahun yang lalu saat semua kisah itu menjadi awal yang berbeda. Ketika keramahan