Ini Bukan Kemewahan, Ini Bentuk Pemulihan - Umi Satiti - Sabtu malam, aku seorang diri di dalam kamar memikirkan banyak hal untuk direnungkan. Sejauh ini ternyata banyak hal yang membuatku Lelah, bahkan aku hamper kehilangan diriku sendiri hanya karena terus mencoba menjadi seperti yang mereka pinta. Sejauh ini - banyak pencapaian, banyak pendapatan, dan banyak perjalanan. Hanya saja belakangan Lelah begitu melekat, senyum hanya sebuah pura-pura untuk tampil baik-baik saja. Aku banyak kalahnya. Aku banyak kurangnya. Sebegitu jahatkah dunia pada diriku yang kecil ini? Malam ini aku ingin mengurai sebuah pernyataan yang belakangan memenuhi tellingaku, "Sekarang kamu boros, ya, jajan terus." Secangkir thai tea menemani, aku hanya ingin bercerita bagaimana rasanya bisa membeli sesuatu yang dulu hanya bisa aku lihat. Ada masa dalam hidupku yang banyak berantakannya aku harus menahan banyak hal - keinginan. Baju bagus yang dulu dikenakan orang-orang di hari raya, seragam sekolah ...
Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus dengan Rasa Syukur: Tantangan yang Berbuah Manis Menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) merupakan sebuah anugerah tersendiri. Mengajar anak-anak berkebutuhan khusus bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati yang memerlukan kesabaran, ketulusan, dan komitmen. Setiap anak memiliki tantangan unik yang membutuhkan pendekatan personal, dan sebagai guru, kita diajak untuk beradaptasi dan merangkul perbedaan ini dengan penuh rasa syukur. Mengajar dengan rasa syukur berarti menerima setiap proses dengan hati lapang, menghargai setiap pencapaian kecil, dan mengakui bahwa setiap langkah yang mereka ambil adalah sebuah kemenangan. Di tengah proses yang mungkin lambat dan penuh tantangan, rasa syukur membuat kita tetap teguh dan mampu melihat sisi positif dalam setiap situasi. Ketika seorang anak berhasil mengeja kata pertamanya atau merangkai kalimat sederhana, itu adalah momen berharga yang harus disyukuri. Salah satu kunci utama dalam mengajar anak...
"Aku Ingin Berhenti Sebentar, Tanpa Dituduh Egois" - Umi Satiti - Aku masih tidak mengerti, mengapa di dunia ini ada orang yang energinya selalu penuh. Seakan tidak pernah ada habisnya langkah yang dia punya. Begitu gesit dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu agenda ke agenda lain, atau beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Anehnya, orang seperti dia itu adalah aku. Di dunia ini juga ada orang yang hatinya seperti mata air - selalu mengalir, selalu memberi. orang yang tidak pernah tega Ketika melihat orang lain susah, bahkan saat dirinya sedang berada pada momen Lelah. Orang itu akan berusaha selalu ada untuk orang lain, padahal dia telah kehabisan tenaga untuk dirinya sendiri. Orang baik itu akan berikan pundaknya untuk orang lain bersandar, walau kakinya sudah gemetar. Aku ingin berfikir bahwa orang itu bukan aku, tapi aku keliru. Mungkinkah kamu sama seperti aku? Selalu ada untuk orang lain, tapi tak pernah sempat menyapa diri sendiri. Sampai aku ma...
Komentar