Menepi tanpa pernah ada niat untuk menghilang. Aku mulai langkahlu dengan mengheningkan rasa untuk berjumpa dengan Ramadhan. Tidak perlu berisik lagi perihal luka-luka yang pernah terjadi meski sakitnya belum pergi. Biarlah semua yang telah berlalu tetap ada dalam kenangan, cukup diingat tanpa harus diundang kembali ke dalam dada. Aku ingin menyambut bulan Ramadhan dengan hati yang lapang, tanpa perlu menaruh dendam pada takdir yang sempat membuatku berantakan. Tentang kamu, tentang kita—biarkan semuanya luruh bersama doa-doa yang kuhaturkan di sepertiga malam. Biar namamu perlahan hilang dari ucapan yang dahulu sempat menjadi semoga. Waktu itu, mungkin aku pernah berharap lebih dari yang seharusnya. Mungkin aku pernah menggenggam sesuatu yang memang harus dilepaskan. Memaksanya erat menjadi milikku padahal bukan takdirku. Tapi kini, aku belajar melepaskan, belajar memahami bahwa tidak semua yang hadir harus menetap. Aku akan berusaha terima tentang sesuatu yang datang tida...
Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus dengan Rasa Syukur: Tantangan yang Berbuah Manis Menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) merupakan sebuah anugerah tersendiri. Mengajar anak-anak berkebutuhan khusus bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati yang memerlukan kesabaran, ketulusan, dan komitmen. Setiap anak memiliki tantangan unik yang membutuhkan pendekatan personal, dan sebagai guru, kita diajak untuk beradaptasi dan merangkul perbedaan ini dengan penuh rasa syukur. Mengajar dengan rasa syukur berarti menerima setiap proses dengan hati lapang, menghargai setiap pencapaian kecil, dan mengakui bahwa setiap langkah yang mereka ambil adalah sebuah kemenangan. Di tengah proses yang mungkin lambat dan penuh tantangan, rasa syukur membuat kita tetap teguh dan mampu melihat sisi positif dalam setiap situasi. Ketika seorang anak berhasil mengeja kata pertamanya atau merangkai kalimat sederhana, itu adalah momen berharga yang harus disyukuri. Salah satu kunci utama dalam mengajar anak...
"Aku Ingin Berhenti Sebentar, Tanpa Dituduh Egois" - Umi Satiti - Aku masih tidak mengerti, mengapa di dunia ini ada orang yang energinya selalu penuh. Seakan tidak pernah ada habisnya langkah yang dia punya. Begitu gesit dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu agenda ke agenda lain, atau beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Anehnya, orang seperti dia itu adalah aku. Di dunia ini juga ada orang yang hatinya seperti mata air - selalu mengalir, selalu memberi. orang yang tidak pernah tega Ketika melihat orang lain susah, bahkan saat dirinya sedang berada pada momen Lelah. Orang itu akan berusaha selalu ada untuk orang lain, padahal dia telah kehabisan tenaga untuk dirinya sendiri. Orang baik itu akan berikan pundaknya untuk orang lain bersandar, walau kakinya sudah gemetar. Aku ingin berfikir bahwa orang itu bukan aku, tapi aku keliru. Mungkinkah kamu sama seperti aku? Selalu ada untuk orang lain, tapi tak pernah sempat menyapa diri sendiri. Sampai aku ma...
Komentar