Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus dengan Rasa Syukur: Tantangan yang Berbuah Manis Menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) merupakan sebuah anugerah tersendiri. Mengajar anak-anak berkebutuhan khusus bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati yang memerlukan kesabaran, ketulusan, dan komitmen. Setiap anak memiliki tantangan unik yang membutuhkan pendekatan personal, dan sebagai guru, kita diajak untuk beradaptasi dan merangkul perbedaan ini dengan penuh rasa syukur. Mengajar dengan rasa syukur berarti menerima setiap proses dengan hati lapang, menghargai setiap pencapaian kecil, dan mengakui bahwa setiap langkah yang mereka ambil adalah sebuah kemenangan. Di tengah proses yang mungkin lambat dan penuh tantangan, rasa syukur membuat kita tetap teguh dan mampu melihat sisi positif dalam setiap situasi. Ketika seorang anak berhasil mengeja kata pertamanya atau merangkai kalimat sederhana, itu adalah momen berharga yang harus disyukuri. Salah satu kunci utama dalam mengajar anak...
Tentang Ego yang Pelan-Pelan Belajar Lembut - Umi Satiti - Tumbuh menjadi perempuan yang terbiasa apa-apa sendiri memang tidak mudah. Diri yang terbiasa kuat, mandiri, dan bisa mengandalkan diri sendiri akan merasa tidak nyaman saat menerima kebaikan atau pertolongan dari orang lain. Aku akan segera berfikir bagaimana bisa membalasnya secepat mungku, bahkan andaikan bisa - seketika itu juga aku membalasnya. Jika tidak, hatiku akan gelisah. Aku takut dibilang lemah jika terlalu sering menerima kebaiakan orang lain tanpa memberinya balasan balik. Meski seseorang itu tidak meminta, aku akan sesegera mungkin membalas kebaikannya. Aku tidak ingin ada hutang budi. Semakin hari aku semakin sadar, bahwa kebaikan tidak harus dibayar tunai - seketika itu juga. Ada suatu Waktu dimana kita hanya perlu menerima tanpa buru-buru membalasnya. Bahkan tidak membalasnya juga boleh. Aku belajar menerima tanpa rasa bersalah. Semua ini bukan semata tentang gengsi, tapi ada ego seorang perempuan y...
Ini Bukan Kemewahan, Ini Bentuk Pemulihan - Umi Satiti - Sabtu malam, aku seorang diri di dalam kamar memikirkan banyak hal untuk direnungkan. Sejauh ini ternyata banyak hal yang membuatku Lelah, bahkan aku hamper kehilangan diriku sendiri hanya karena terus mencoba menjadi seperti yang mereka pinta. Sejauh ini - banyak pencapaian, banyak pendapatan, dan banyak perjalanan. Hanya saja belakangan Lelah begitu melekat, senyum hanya sebuah pura-pura untuk tampil baik-baik saja. Aku banyak kalahnya. Aku banyak kurangnya. Sebegitu jahatkah dunia pada diriku yang kecil ini? Malam ini aku ingin mengurai sebuah pernyataan yang belakangan memenuhi tellingaku, "Sekarang kamu boros, ya, jajan terus." Secangkir thai tea menemani, aku hanya ingin bercerita bagaimana rasanya bisa membeli sesuatu yang dulu hanya bisa aku lihat. Ada masa dalam hidupku yang banyak berantakannya aku harus menahan banyak hal - keinginan. Baju bagus yang dulu dikenakan orang-orang di hari raya, seragam sekolah ...
Komentar