Membuka Jalan Satu Titik Demi Satu Titik Cahaya

 Hari Braille selalu mengingatkan saya pada satu masa yang begitu sunyi, tetapi penuh makna.


Saya, pernah menyelesaikan tugas untuk mengalihaksarakan sebuah buku anak ke huruf Braille. Judulnya sederhana: “Entok, Itik yang Takut Berenang.” Namun prosesnya mengajarkan hal yang jauh lebih besar dari sekadar teknis membaca dan menulis.


Pengalaman itu saya peroleh saat menjalani PPL di SLB A Pembina Tingkat Nasional, ketika saya masih menjadi peserta Pendidikan Profesi Guru Prajabatan Program SM-3T Tahun 2015. Di ruang belajar yang tenang, saya mulai memahami bahwa literasi bukan hanya soal huruf yang terbaca, tetapi tentang akses, empati, dan keberpihakan.


Mengalih tulisan ke Braille membuat saya belajar sabar—menyadari bahwa setiap titik memiliki arti, dan setiap anak berhak menikmati cerita dengan caranya sendiri. Saya melihat bagaimana cerita sederhana bisa menghadirkan senyum, rasa aman, dan keberanian pada anak-anak yang membaca dengan ujung jari mereka.


Hari ini, di Hari Braille, saya ingin mengingatkan diri sendiri dan kita semua: literasi yang inklusif adalah bentuk cinta yang paling nyata. Karena ketika satu cerita bisa dibaca oleh lebih banyak tangan, di situlah pendidikan benar-benar menjadi rumah bagi semua.


Selamat Hari Braille.

Mari terus membuka jalan, satu titik demi satu titik.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menepi dalam Hening

"Aku Ingin Berhenti Sebentar, Tanpa Dituduh Egois"

Setiap Hari Baru