Aku pernah jatuh dan sangat marah.
Aku pernah jatuh dan sangat marah.
- Pulanglah, Pintu Rumahmu Belum Dikunci -
Rupanya kisah kita belum selesai dari ingatanku. Aku kira Ketika lewat depan rumahmu, aku akan baik-baik saja. Benar bibirku tersenyum, tapi tidak dengan egoku.
Lama tak mendengar kabarmu. Lama juga tak ada cerita tentangmu. Semoga kamu telah benar-benar pulang ke rumahmu. Semoga benar kau memperbaiki lampu teras yang dulu padam. Semoga juga benar kau bercakap manis dengan seorang Wanita di dalam rumah itu. Semoga kau benar-benar pulang.
Sayangnya aku sempat lewat pada siang hari, tidak benar-benar tahu apakah benar lampu terasmu sudah benar-benar menyala. Aku terlalu sungkan untuk bertanya pada orang-orang di sekitarmu.
Benar, ada kisah kita yang belum selesai dari ingatanku. Namun pelan-pelan semua akan aku tuntaskan. Aku telah membuat sebuah keputusan baru dalam hidupku. Aku akan Kembali menabung untuk mimpi yang belasan tahun lalu kubur dengan sadarku.
Aku merencanakan sebuah "study" yang akan kutempuh dengan mandiri. Aku akan Kembali mengumpulkan rupiah dengan bekerja keras. Setelah tabungan kemarin yang aku kira akan menjadi modal awal kita menempuh sebuah perjalanan aku habiskan tuntas untuk sebuah ruang singgah.
Bersamamu aku pernah jatuh dan marah. Aku kehilangan arah. Aku terpaksa berhenti untuk Waktu yang tidak sebentar. Aku turun dari keretaku di sebuah stasiun yang asing bagi hidupku, Stasiun ratapan. Sebuah stasiun yang teramat sepi dan remang-remang. Barangkali petugas kebersihannya tidak benar-bener bekerja. Atau bisa jadi terlanjur Lelah membersihkan serpihan luka orang-orang yang turun di sana.
Kau selalu tahu Harga patah hatiku yang tidak pernah murah. Begitupun Ketika stasiun pemberhentian kita tak sama, aku bayar mahal untuk makan di stasiun rapatan agar tenang.
.png)
.png)
Komentar